Latar Belakang
Kepemimpinan
sebuah bangsa harus dipersiapkan sejak dari masa kanak-kanak, remaja,
dan usia muda. Mengelolanya dengan baik untuk mengantarkannya menuju
karakter pemimpin yang dilandasi oleh terjaganya moralitas dan
terasahnya interlektualitas, namun yang kita rasakan saat ini,
lingkungan tempat para remaja kita tumbuh dan mengembangkan dirinya
semakin lama semakin tidak layak untuk menjadi tempat belajar dan
membentuk pribadi
Oleh karena itu, adalah tugas dan tanggung
jawab bersama, untuk menciptakan suatu kondisi yang mendorong remaja
Islam untuk tumbuh dan berkembang sebaik-baiknya dengan memberikan
kesempatan dan media kepada mereka untuk belajar, berpikir, bermain,
serta beribadah untuk mengenal diri, lingkungan dan Tuhannya dengan
sebaik-baik pengenalan
Saat ini di seluruh pelosok Indonesia
telah berdiri TPA-TPA dan madrasah pemberantasan buta huruf Al-Qur'an,
yang hasilnya secara signifikan telah dapat kita rasakan bersama. Akan
tetapi budaya wisuda TPA ternyata telah berdampak pada melemahnya
motivasi mengaji setelah menyelesaikan program tersebut. Padahal
masa-masa sekitar usia SLTP saat ini menjadi usia yang semakin rawan
dari segala pengaruh negatif. Berangkat dari keprihatinan ini perlu
kiranya kita memberikan alternatif lembaga yang tepat untuk pembinaan
diri remaja.
Mosque Schooling (Sekolah Berbasis Masjid) adalah
sebuah pembinaan pasca TPA yang merupakan program pembinaan nilai-nilai
Islami secara intensif dengan sasaran remaja usia akhir sekolah dasar
hingga akhir Sekolah Menengah Pertama. Tujuan program ini adalah
memberikan dasar pemahaman dan pengamalan Islam, pembentukan akhlaq
serta pematangan emosi bagi peserta didik
Program Mosque
Schooling (Sekolah Berbasis Masjid) terdiri dari 3 bagian penting,
pendidikan akhlak dengan cerita para sahabat Rasulullah SAW pilihan,
peningkatan kualitas akademik dan pendidikan keterampilan hidup ( life
skill ) yang didalamnya tercakup kajian kepemimpinan, early
entrepreunership program dan outbound sebagai penunjangnya
Sejarah SBM
Mosque
Schooling (Sekolah Berbasis Masjid) adalah sebuah kelanjutan dari ide
besar yang telah dikembangkan oleh rekan-rekan aktifis remaja masjid di
Yogyakarta yang bernana Sentra Generasi Harapan atau SGH. SGH muncul
setelah selaksa kekhawatiran kepada para remaja oleh sebagian aktifis
remaja masjid di Yogyakarta akan pudarnya nilai-nilai yang sekian lama
ditanamkan sejak bangku TPA dan TKA, karena beranjaknya usia mereka
berbanding lurus dengan tarikan-tarikan pengaruh negatif yang melingkupi
lingkungan bermain mereka.
Pada tahun 2001, dimulailah sebuah
bentuk pendidikan alternatif yang ditujukan untuk akan usia SLTP,
selepas mereka menamatkan pendidikan TPA dan TKA. Perbedaan usia
menjadikan kurikulum yang juga berbeda. Saat itu SGH hanya mengambil
porsi pendidikan Islami dan sebahagian akademic skill dan outbound. SGH
diadakan setiap sabtu sore dan sering disebut dengan Sekolah Remaja.
Pada
tahun 2006, SGH diperkenalkan pada acara Muktamar Pertama JPRMI dan
mulai dibicarakan untuk diangkat ke tingkat Nasional dan dijadikan
sebagai produk unggulan.
Atas seijin para pendiri SGH, Pengurus
Pusat JPRMI mengadakan perubahan mendasar baik dari sisi kurikulum
maupun teknologi pembelajaran, SGH dan SBM memiliki kesamaan dalam
semangat memperbaiki generasi penerus dan membendung efek negatif
pergaulan remaja yang mulai destruktif
Pada akhirnya SGH berubah
nama menjadi Mosque Schooling atau Sekolah Berbasis Masjid (SBM)
mengingat sangat eratnya kaitan antara pendidikan ini dengan masjid
TUJUAN
1. Menjadi wadah pendidikan non formal dalam pembinaan remaja Islam.
2. Terjaminnya keberlanjutan pendidikan dan pembinaan agama Islam dikalangan remaja.
3.
Melahirkan generasi pemuda yang memiliki pemahaman dan kepribadian yang
islami yang utuh, baik secara ruhani, jasmani dan intelektual
SASARAN DAN TARGET
Remaja Islam pasca TPA dengan usia remaja antara kelas 5 Sekolah Dasar hingga kelas 3 Sekolah Menengan Pertama
KURIKULUM SBM
SBM mengambil 3 kurikulum besar :
1. Pemahaman Keislaman
2. Bahasa Inggris
3. Life Skill (Keterampilan Hidup)

Pemahaman
Keislaman dilakukan dengan mengambil cerita sejarah hidup sahabat
pilihan dan mengeksplorasi karakter yang termuat dalam cerita sahabat
tersebut, sedangkan karakter yang akan dikembangkan dalam SBM ini ada 10
karakter Yaitu : Aqidah yang lurus, Ibadah yang benar, Akhlak yang
baik, Fisik yang kuat, Kesungguhan, Cerdas, Disiplin, Cermat, Berguna
bagi orang lain, dan berjiwa Wirausaha
Setiap cerita sahabat,
akan dieksplorasi sifat-sifat yang terkandung didalamnya dengan
pancingan pertanyaan kepada para santri dan jawaban yang telah
disediakan untuk para teachers. Untuk itu akan diberikan training tehnik
bercerita sejarah hidup sahabat kepada remaja yang diadakan untuk para
teachers. Sedangkan para santri dibekali dengan komik sahabat yang
isinya sama dengan apa yang diceritakan oleh para teachers. Dalam satu
bulan ada 3 episode kehidupan sahabat yang akan dibahas, ditutup dengan
drama tentang sahabat tersebut pada pekan keempat
SBM menggunakan
metodologi Spider Web, yang kurang lebih artinya adalah bahwa seluruh
apa yang didapat santri saling berkaitan satu sama lain.
Kurikulum
Bahasa Inggris, akan mengambil tema-tema tentang sahabat pada bulan
tersebut. Metodologi pengajarannya ditekankan pada conversation ringan
tentang sahabat.
Ketika berbicara tentang sahabat yang bekas
seorang budak kemudian mampu menjadi Gubernur Kuffah (presiden Irak),
maka Lifeskill yang diberikan adalah memupuk kepercayaan diri.
Pada
kurikulum LIfeskill juga ditanamkan program Early Entrepreneurship
Program, dengan tujuan memupuk jiwa wira usaha dan mengikis
ketergantungan secara ekonomi kepada kedua orang tua dan lingkungannya,
setiap bulan pada semester ketiga, diadakan market day, wadah pemasaran
produk mereka sendiri baik untuk sekolahnya maupun lingkungan sekitar
SBM.
Sebelum memulai kelas, dilakukan program hafalan juz 29 dan
30 terlebih dahulu selama 15 menit, diharapkan dalam 3 tahun pendidikan
SBM, dicapai hafalan santri sebanyak dua juz tersebut

Secara garis besar, kami mempunyai 3 cita-cita besar dengan kurikulum ini :
1.
Santri memahami dan mendalami serta mempraktekan karakter yang
terkandung dalam cerita sahabat dan dieksplorasi oleh para teachers
mereka
2. Santri diharapkan mampu melakukan drama dalam bahasa
Inggris di semester ke-5 dan para teachers mampu membuka kelas awal
dalam bahasa Inggris
3. Santri diharapkan mampu survive dalam 2
hal, survive secara sosial, mampu bergaul, memimpin dan berorganisasi
karena diajarkan tentang hal tersebut, dan santri mampu survive secara
ekonomi minimal mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dengan Early
Entrepreneurship Program.
Adapted from:
http://www.jprmi.or.id/